30
NOV
2020

Tips Mengembangkan Tulisan dengan Teknik 1 Kata

Ada yang berkata kalau ingin jadi penulis harus rajin baca buku. Benarkah pernyataan tersebut?

Sebenarnya jika ingin jadi penulis, tidak harus rajin baca. Karena toh menulis ya tinggal menulis saja kan? Tuangkan saja apa yang ada dalam pikiran menjadi kumpulan kata. Bukankah itu termasuk menulis? Tapi apakah menulis yang sesederhana itu yang diinginkan? Tentu kita berharap dapat menuliskan hal yang bermanfaat bagi pembaca. Visi jauhnya ke depan, agar apa yang dituliskan bisa menjadi tabungan amal jariah. Semoga. Aamiin Ya Rabbal Alamiin.

Penulis yang Bagus adalah Pembaca yang Bagus

Pernyataan ini lebih tepat. Jika ingin menjadi penulis yang bagus, harus diseimbangkan dengan banyak membaca referensi yang bagus. Sama seperti seorang pembicara yang juga harus mempunyai keseimbangan dengan banyaknya informasi yang didengar sebagai penambah ilmu pengetahuan dan wawasannya.

Untuk seorang penulis, membaca buku tidak hanya sekedar membaca dan menyimpan wawasan ke dalam otak saja. Lebih dari itu, seorang penulis ketika membaca juga menganalisis banyak hal, seperti alur ceritanya, teknik penulisan, diksi-diksi baru, dan hal teknis lainnya yang bisa memperkaya keilmuan dan skill sebagai seorang penulis.

Pada zaman sosial media sekarang, tantangan membaca buku semakin berat. Karena kita terarahkan baik secara sadar atau tidak sadar dengan membaca postingan di sosial media. Apakah itu berupa Instagram, Facebook, Twitter, atau Website.  Formatnya pun bermacam-macam. Ada yang berupa carousel Instagram (slide yang digeser), thread Twitter (kumpulan cuitan), atau hanya sekedar status Facebook yang jumlah karakternya beragam.

Menurut sumber globalwebindex.com, di bulan Januari tahun 2020 ini, masyarakat Indonesia banyak menghabiskan waktunya untuk berselancar di internet selama 7 jam 59 menit dan untuk menggunakan aplikasi sosial media selama 3 jam 26 menit alias 43% serta untuk mengakses sosial media. Data tersebut diperoleh pada bulan Januari 2020 ketika pandemi corona belum terdeteksi di Indonesia. Dengan adanya pandemi, sudah bisa dipastikan konsumsi internet masyarakat Indonesia meningkat drastis.

Memang tidak ada yang salah kalau kita membaca sosial media. Karena kenyataannya banyak postingan yang inspiratif. Tetapi bukan berarti tanpa tantangan bila kita membaca postingan pada sosial media.

Apakah tantangan itu?

Pembaca cenderung tidak utuh dalam membaca. Hanya sekilas saja. Resiko lain, tak jarang niatnya hanya membaca satu postingan, tapi kenyataannya malah nyasar membaca ke postingan lain yang tidak lagi relevan. Akhirnya keluar jalur dan kebablasan.

Membaca buku tetap menjadi saran yang utama. Karena di dalam sebuah buku gagasan yang disampaikan lebih utuh dan jauh dari disraksi digital. Mungkin ada kesulitan untuk memulainya. Beruntung, banyak sekali program – program yang hadir untuk membantu para pembaca. Bisa berupa komunitas hobi, program, bahkan mentoring.

Kembali lagi dengan menulis. Harus kita sepakati bahwa membaca adalah kebutuhan wajib bagi penulis. Semakin banyak membaca buku – buku yang bermanfaat maka akan semakin banyak informasi yang kita dapatkan, semakin luas wawasan kita, yang akhirnya sangat berpengaruh pada ide kreativitas kita yang membuat semakin bagus pula potensi tulisannya, Tetapi perlu diingat bahwa hanya berbekal potensi saja belum cukup,Karena potensi bukan kepastian. Karena belum pasti , jadi yang suka membaca belum pasti bagus dalam menulis. Untuk menghasilkan tulisan yang berkualitas harus diseimbangkan dengan banyaknya latihan.

Teknik 1 kata bisa menjadi latihan sederhana bagi yang ingin memulai. Langkah kongkritnya seperti ini:

  1. Sebutkan 1 kata saja
  2. Tuangkan dalam tulisan sebanyak 200 kata
  3. Jika ingin tantangan lebih, berikan durasi waktu. 30 menit misalkan.

Contohnya,

jika disebutkan kata “kera” apa yang terbayangkan dalan pikiran Anda?

Sebagian besar mungkin akan membayangkan sosok binatang berkaki empat yang ada di pohon. Lalu menceritakan bentuk kera secara spesifik.

Bagi yang punya kualitas membacanya bagus maka dalam pikiran, apa yang sudah dia baca akan menjadi bahan baku untuk dia tuangkan dalam menu tulisannya. Menjadi koki kata dengan pesan yang bermakna.

Contoh:

Kera

Jika hidup hanya sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Jika kerja sekadar bekerja, kera juga bisa bekerja.

Begitulah pesan bermakna yang disampaikan oleh ayah bangsa, Buya Hamka. Sosok legendaris yang menjadi Ketua MUI pertama. Ulama sekaligus sastrawan, politikus, dan peran penting lain bagi bangsa Indonesia. Termasuk kini, perannya pun masih kuat terasa. Lebih dari seratus buku sudah dituliskannya.

Pesan sindiran dari Buya Hamka. Bahwa kita tidak bisa hanya sekadar hidup atau bekerja di dunia. Karena kita adalah manusia yang punya visi mulia dalam hidup. Makna inilah kunci pembeda kita dengan binatang. Sudahkah kita memberikan makna dengan hadirnya di dunia?

Kata kunci kera hanya menjadi contoh saja. Sebutkan saja 1 kata lain, dan mulailah latihan menulis.

Tetap semangat

Tetap jaga sehat, dengan memperhatikan dan mengikuti protocol kesehatan.

Semoga Allah SWT melindungi dan menjaga kita.

Aamiin Ya Rabbal Alamiin

Salam sehat tanpa obat