19
DES
2020

MEMBENTUK KARAKTER GENERASI BANGSA

Masyarakat Jawa sangat kaya akan kebudayaan  yang syarat dengan filosofi dan juga nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya itu saja, norma, adat dan juga sopan santun juga sangat dijunjung tinggi sebagai martabat trah Jawa. Namun sayangnya, memasuki abad ke-21 ,para generasi bangsa yang dikenal dengan “Generasi Z” sudah mulai kehilangan jati diri mereka. Banyak diantara mereka sudah melupakan adat istiadat dan sopan santun dalam bergaul di kehidupan sehari-hari maupun di lingkungan sekolah. Hormat pada orang yang lebih tua tidak lagi mereka hiraukan. Kata-kata yang terucap dari lisan pun sering kali bernada kasar. Fenomena tersebut sangat memprihatinkan jika dibiarkan secara terus menerus. Hal ini menjadi PR dan tanggung jawab bagi kita para pendidik untuk membentuk karakter peserta didik agar menjadi pribadi yang berkarakter hebat bagi bangsa dan Negara.

Banyak cara untuk memperbaiki keadaan tersebut, salah satunya dengan mulai mengenalkan satu per satu kebudayaan, norma dan juga adat istiadat yang kita miliki. Salah satunya melalui pembelajaran tembang macapat. Setiap lirik yang tertulis pada tembang macapat, menyiratkan makna filosofis yang sangat dalam. Sebagai contoh dalam tembang macapat pangkur di bawah ini :

Tembang Pangkur  Makna
Nggugu karsaning priyangga, Nora nganggo peparah lamun angling, Lumuh ing ngaran balilu, Uger guru aleman, Nanging janma ingkang wus waspadeng semu Sinamun ing samudana, Sesadon ingadu manisMenceritakan kehidupan seseorang yang hanya mengikuti kemauan sendiri. Bila berbicara tidak dipertimbangkan baik buruknya. Selalu merasa pintar, benar dan tidak mau dianggap kurang wawasan. Di setiap tindakannya, Ia selalu mengharapkan pujian dari orang lain. Keadaan ini sangat berbanding terbalik dengan orang yang sudah berilmu tinggi. Orang yang berilmu selalu memiliki watak rendah hati, dan juga berprasangka baik pada orang lain.  
Kiki sanemung sapala, Palayune ngendelken yayah wibi, Bangkit tur bansaning luhur, Lha iya ingkang rama, Balik sira sarawungan bae durung Mring atining tata krama, Nggon anggon agama suci.  Orang yang merasa dirinyalah yang paling benar dan tinggi kedudukannya, sejatinya memiliki tujuanh idup yang rendah jika dipandang dari sisi yang bijak. Ia tidak memiliki kemampuan apapun, hanya mengandalkan nama dan pangkat dari orang tuanya. Ia tidak sadar, bahwa gelar bangsawan hanya milik ayahnya. Bukan miliknya yang sama sekali tidak mau berusaha. Ia bahkan tidak mengenal hakikat dari tata karma dalam ajaran yang suci.
Socaning jiwangga nira, Jerkatara lamun pocapan pasthi, Lumuh asor kudu unggul, Semengah sesongaran, Yen mangkono kena ingaran katungkul, Karem ing reh kaprawiran, Nora enak iku kaki.  Perilakumu adalah cerminan dari jiwa dan ragamu. Meskipun kau sembunyikan melalui tutur kata yang halus,  Sifat aslimu akan tetap terlihat. Yang ada pada dirimu hanyalah sifat ingin menang sendiri, sombong, besar mulut Dan juga berlagak sangat tinggi. Ketahuilah nak, itu semua tidak baik.

Tembang Pangkur tersebut tertulis dalam serat Wedhatama karya dari Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Sri Mangkunegoro IV. Dalam praktik nembang macapat, peserta didik tidak hanya sekedar melagukan lirik sesuai dengan titilarasnya. Namun di balik itu semua, mereka juga harus memahami makna dari setiap kalimat yang terucap. Pembelajaran apa saja yang tertuang juga harus diperhatikan dengan seksama. Semakin mereka mengenal norma-norma melalui tembang macapat, kedepannya sedikit demi sedikit diharapkan bisa memperbaharui citra diri Generasi Z.Gencarnya pengenalan kebudayaan, norma dan juga adat istiadat pada peserta didik akan mengimbangi mereka dalam perkembangan zaman yang modern ini. Mereka tidak hanya mahir dalam teknologi digital, berselancar di dunia maya, namun jati diri mereka juga akan tetap terjaga. Memperbaharui karakter generasi bangsa menjadi generasi yang hebat, santun, berilmu, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab adalah kewajiban kita semua sebagai seorang pendidik yang professional. Marilah kita bersama-sama bahu membahu, agar anakdidikkita terbentukmenjadi pemimpin-pemimpin yang hebat di masamendatang.