26
DES
2020

Guru Teladan atau Guru Panutan?

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru

Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku

Semua baktimu akan ku ukir didalam hatiku                               

Sebagai prasasti terima kasihku

tuk pengabdianmu

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan

Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan

Engkau patriot pahlawan bangsa pembangun insan cendikia

Kebanyakan dari kita mungkin paham dan hapal bait lagu di atas. Lagu berjudul Hyme Guru ciptaan Sartono itu seolah menggambarkan betapa mulianya kedudukan guru di masyarakat. Guru sebagai unsur utama pembangunan SDM dalam sebuah bangsa harus kembali mendapat penghormatan lagi yang layak diroda zaman yang terus berputar.

Sejatinya Islam menempatkan pendidik dan guru di posisi terhormat. Guru merupakan orang kedua yang harus dihormati dan dimuliakan setelah orang tua. Mereka mengantikan peran orang tua dalam mendidik anak ketika di lembaga pendidikan itu. “ Bukan termasuk umatku, orang yang tidak menghormati yang tua, tidak menyayangi yang muda dan tidak memuliakan orang yang berilmu (ulama/guru),” begitu sabda Nabi Muhammmad SAW menerangkan ciri-ciri umat beliau. Maka mulialah orang-orang yang memuliakan para pendidik dan ulama serta hinalah orang yang tidak memuliakan mereka.

Profesi guru itu merupakan peran yang mulia di hadapan Allah dan Rasul-Nya. Sebab, guru punya peran yang besar terhadap jaminan kualitas bangsa. Di tangan gurulah aset bangsa yang bernama generasi itu ditentukan seperti apa akhlak hingga membawa keselamatan dunia dan akherat kelak. Para guru juga berpeluang sangat besar untuk memperoleh pahala yang terus mengalir tiada putus-putusnya sebab, guru punya amal jariyah yang terus mengalir pahalanya jika muridnya terus mengamalkan ilmu yang diajarkannya. Hal ini berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW yang artinya , “jika anak Adam meninggal dunia, maka semua amalannya akan terputus kecuali tiga perkara : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakannya (HR. Muslim).

Menilik hadits tersebut tentu kita sepakat bahwa guru memiliki peran dan fungsi yang sangat penting dalam membentuk kepribadian anak guna menyiapkan dan mengembangkan sumber daya manusia (SDM). Meski memiliki kedudukan yang mulia dalam pandangan agama maupun kehidupan masyarakat, guru tidak boleh terlena dengan sanjungan ini. Para guru justru  harus terus menerus  mengembangkan kapasitas dirinya agar semakin bertindak profesional.

Guru yang profeional harus memenuhi empat hal :

Pertama, mempunyai persepsi yang kuat tentang tanggung jawabnya. Persepsi yang benar akan melahirkan niat dan motivasi yang benar. Kalau guru itu kokoh imannya, maka ilmu yang di ajarkan menghasilkan keberkahan. Dan ini akan membekas pada murid-muridnya. Bukankah setiap guru ingin ilmunya itu dapat di terima dengan baik oleh para siswanya?

Kedua, guru harus meningkatkan kompetensi dan ketrampilan di bidangnya. Tugas dan peran guru dari dari hari ke hari semakin berat seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi (IPTEK). Guru sebagai komponen utama dalam dunia pendidikan dituntut untuk mampu mengimbangi bahkan melampaui perkembangan IPTEK. Sudah  menjadi keniscayaan jika guru itu berlaku seperti golongan rabbani sebagai yang dijelaskan dalam Al Qur’an yaitu orang yang selalu mengajar ilmu sekaligus senantiasa belajar. Allah SWT berfirman,”…Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan di sebabkan kamu tetap mempelajarinya” (QS. Ali Imran 79).

Ketiga, guru harus punya qudwah (tauladan) yang baik. Para guru mesti bisa menjadi teladan di setiap ucapan dan tindakannya. “Guru itu kan singkatan dari di gugu dan di tiru. Di gugu artinya di teladani dan di tiru punya makna bisa di contoh setiap perilakunya.”

Keempat, mendoakan anak didik dalam setiap untaian doa. Sekalipun murid di sekolah bukanlah anak kandung, tapi alangkah mulianya jika setiap guru dengan penuh harap memohon kepada Allah SWT kebaikan bagi anak-anak didiknya. Tujuannya agar kita punya hubungan batin yang kuat dengan Allah SWT. Agar Allah berkenan melimpahkan hidayah kepada anak-anak didik kita sehingga menjadi anak yang cerdas dan baik. Bukankah hanya Allah yang bisa membolak balikan hati manusia.

Jika ke empat hal tersebut bisa di penuhi, niscaya predikat guru teladan dan professional benar-benar di sandang baik di mata siswa, orang tua, masyarakat, dan tentu saja di hadapan Allah SWT. Sebab, profesi guru sama dengan berdakwah di jalan-Nya. Jika demikian, Allah pasti akan menolongnya. “Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi sampai-sampai semut yang berada di lubangnya dan ikan yang berada di air, sungguh bershalawat untuk orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.”(HR. Tarmidzi)

Selamat Hari Guru Nasional 25 November 2020 kepada guru-guru seluruh Indonesia..

Jangan pernah lelah menjadi pelita bagi negeri ini

Jadilah selalu patriot pahlawan bangsa

Membangun pendidikan karakter melalui keteladanan guru…