16
MAR
2021

5 LANGKAH MELATIH KECERDASAN EMOSI ANAK SEJAK DINI

Banyak cara Orang tua menyayangi putra putrinya agar tumbuh menjadi insan yang mandiri siap menghadapi tantangan di dalam kehidupannya. Namun banyak orang tua yang salah asuh sehingga mereka uring uringan, marah-marah bahkan mencaci maki putra putrinya. Padahal kalau kita sebagai orangtua merenung apa yang mereka lakukan adala cerminan dari pola asuh

Orangtua itu sendiri. Selain doa yang senantiasa dipanjatkan untuk sang buah hati, Orangtua sebaiknya juga punya pola asuh yang tepat sehingga putra putrinya bisa tumbuh dan berkembang sesuai yang diharapkan. Salah satu pola asuh yang disarankan adalah dengan cara membangun kecerdasan emosi anak sejak dini.

      Membangun kecerdasan emosional anak sama pentingnya dengan membangun kecerdasan intelektual. Kecerdasan emosional berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melihat, memahami, mengatur, dan mengungkapkan peristiwa emosional sesuai dengan keadaan. Orangtua sebaiknya memahami sisi psikologi usia dini, termasuk dalam hal kecerdasan emosional anak. Kemampuan ini memang dapat tumbuh secara alami, tetapi tentunya tetap dibutuhkan dukungan dari lingkungan sekitar agar anak dapat mengembangkan kecerdasan emosionalnya secara maksimal. Peran Orangtua sangat penting untuk menunjang perkembangan kecerdasan emosional buah hati. Berikut ini 5 langkah yang bisa  dilakukan untuk membangun kecerdasan emosional buah hati sejak dini :

1. Mengajarkan anak menerima perasaan negatif

Saat si Kecil sedang terlihat menangis, Orang tua harus mengusahakan untuk menghindari kata-kata seperti: “Cup… cup… Yuk, sudah diam dan berhenti menangisnya!” Kalimat ini memang berusaha menghentikan tangisan si Kecil, namun ini justru kurang tepat. Si Kecil seolah dipaksa berhenti saat dirinya sedang ingin mengekspresikan perasaan negatif yang sedang dirasakan. Itu berarti Orangtua tidak membiarkan si Kecil melatih kecerdasan emosinya. Ada baiknya saat anak-anak sedang marah atau sedih, cobalah untuk mengutarakan “Ibu sepertinya melihat kamu sedang sedih hari ini? Bolehkah Ibu tahu apa yang sedang terjadi?” Kalimat seperti ini bagus diutarakan ke si Kecil agar dirinya mau terbuka dan menceritakan apa yang sedang terjadi.

2. Validasi perasaan anak

Saat si Kecil sudah mulai jujur dan menerima perasaan negatif yang sedang dialaminya. Tugas Orangtua sekarang perlu sekali untuk berusaha menenangkan apa yang sedang dirasakan si Kecil. Doronglah si Kecil dengan kata-kata seperti: “Ibu tahu kalau ini kejadian yang menyedihkan. Tetapi tenanglah, ini bukan masalah besar karena Ibu akan berusaha menemani dan membantu kamu. Tahapan ini akan membuat si Kecil untuk tidak perlu khawatir terhadap sebuah masalah atau perasaan negatif yang sedang terjadi padanya. Ingatkan kepadanya kalau setiap orang pasti akan merasakan perasaan sedih atau marah. Semua itu wajar terjadi. Dengan begitu si Kecil akan menyadari kalau dirinya tidak sendiri.

3. Berusaha melatih anak memiliki sikap empati

Walau masih kecil, anak-anak bisa lho diajarkan untuk melatih sikap empati di dalam dirinya. Jika sikap empati sudah dimiliki si Kecil, ini tentu akan membantu dirinya bersosialisasi dengan orang lain di sekitarnya. Orangtua perlu melatih sikap ini ke si Kecil. Ini bisa dilakukan dari kejadian yang terjadi di sekitar si Kecil atau lewat tayangan televisi. Jika ada kejadian tentang kejadian kriminal, mungkin ini bisa dijadikan pelajaran agar si Kecil bisa merasakan bagaimana menjadi korban. Orangtua juga bisa menunjukkan ekspresi untuk menarik perhatian dan empati si Kecil. Dari kejadian sebelum kriminal ini, kita bisa berekspresi seolah menjadi korban dengan raut muka sedih. Orangtua juga bisa menunjukkan ekspresi untuk menarik perhatian dan empati si Kecil.. Selain bisa merasakan kejadian yang dirasakan korban, raut wajah kesedihan yang dibuat juga akan mengembangkan lebih banyak empati untuk si Kecil. Hal ini perlu dilatih terus-menerus agar si Kecil bisa terbiasa belajar memahami perasaan yang dialami oleh orang lain.

4. Mengajari anak menghadapi perasaan tidak nyaman

Si Kecil tidak selalu merasa bahagia dan nyaman, adakalanya merasakan hal-hal yang tidak dirinya senangi. Meskipun usianya masih kecil, anak-anak juga bisa merasakan perasaan tidak nyaman terhadap sesuatu yang terjadi pada dirinya. Selain melatih dan mengajarkan si Kecil menerima perasaan negatifnya, Orangtua juga bisa membantu dirinya menyelesaikan masalah yang sedang terjadi. Wajar sekali jika si Kecil mulai merasa bosan, marah, takut, atau kadang-kadang kesepian. Orangtua bisa mengajarkan mengenai strategi yang tepat untuk menghadapi ketidaknyamanannya ini. Perlahan-lahan latih terus si Kecil agar terbiasa memikirkan solusi dan berpikir kalau perasaan yang dirasakannya itu normal terjadi. Dengan dukungan orang terdekat, si Kecil dapat belajar bahwa emosi yang tidak nyaman ini dapat ditoleransi dan diatasi oleh dirinya sendiri.

5. Berusaha memperbaiki perilaku, bukan emosi

Sebagai orangtua harus berperan penting dalam perkembangan si Kecil. Itu berarti Orangtua harus bisa menjelaskan bentuk perasaan negatif yang sedang dialami si Kecil saat kebingungan dengan emosinya sendiri. Namun perlu disadari kalau yang diperbaiki itu perilakunya, bukan menolak emosi si Kecil. Biarkan emosinya tetap keluar asalkan tidak berlebihan. Perasaan marah itu wajar, namun perilaku agresif itu tidak baik. Contohnya saja saat si Kecil merasa bosan berada di pusat perbelanjaan lalu dirinya mengamuk. Berikan waktu untuk dirinya mengeluarkan emosi sampai tenang. Kemudian katakan pada si Kecil kalau Orangtua tidak keberatan jika dirinya marah, namun tidak boleh sampai bersikap agresif. Sikapnya yang agresif karena tidak bisa mengontrol emosi hanya akan mengganggu orang lain, apalagi kalau sampai berteriak-teriak di depan umum. Melatih kecerdasan emosi ini bisa dilakukan kapan saja. Jangan tunggu si Kecil beranjak dewasa atau saat dirinya bersekolah ya. Usahakan untuk mengajarkannya sedini mungkin. Untuk membuat kecerdasan emosi si Kecil semakin matang. Orangtua bisa meminta bantuan anggota keluarga yang lain di rumah dalam melatih si Kecil bersama-sama. Dengan begitu, ini akan semakin membantu mengelolah emosi si Kecil secara maksimal..(Dimas Prasetyo)

Anak akan belajar dari apa yang mereka alami. Sebagai orang tua sebaiknya memfasilitasi pengalaman hidup yang positif sebagi media sumber belajarnya, Selanjutnya mari kita simak karya Dorothy Law Nolte, Ph.D “Children Learn What They Live” (Anak belajar dari kehidupannya) :

  1. Jika anak dibesarkan dengan celaan Ia belajar memaki.
  2. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan Ia belajar berkelahi.
  3. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan Ia belajar rendah diri.
  4. Jika anak dibesarkan dengan penghinaan Ia belajar menyesali diri.
  5. Jika anak dibesarkan dengan toleransi Ia belajar menahan diri.
  6. Jika anak dibesarkan dengan dorongan Ia belajar percaya diri.
  7. Jika anak dibesarkan dengan pujian Ia belajar menghargai.
  8. Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan Ia belajar keadilan.
  9. Jika anak dibesarkan dengan rasa aman Ia belajar menaruh kepercayaan.
  10. Jika anak dibesarkan dengan dukungan Ia belajar menyenangi dirinya.
  11.  Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

captcha *